Selasa, 01 Januari 2013

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MELALUI PEMANFAATAN MEDIA TEKNOLOGI INFORMASI




Oleh: Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd.
A. Konsep Pembelajaran
Efektivitas pembelajaran dapat dikaji dari beberapa aspek, diantaranya: perangkat pembelajaran, proses, karakteristik pendidik, dan hasil belajar. Semua aspek tersebut saling terkait dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Sedangkan tujuan pembelajaran (pendidikan) mencakup tiga aspek, yaitu: koqnitif, affektif, dan psikomotorik. Tujuan kognitif berkaitan dengan usaha pengembangan intelektual peserta didik, afektif berhubungan dengan perkembangan sosial dan emosional, sedangkan psikomotorik berkenaan dengan perkembangan aspek ketrampilan peserta didik. Hal itu berarti pembelajaran dapat dikatakan berkualitas apabila mampu mengembangkan aspek-aspek tersebut pada diri peserta didik. Pembelajaran yang efektif adalah memungkinkan peserta didik mendapatkan ketrampilan, pengetahuan, dan sikap yang telah ditetapkan.
Pembelajaran harus dilandasi dengan penciptaan lingkungan yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Pada umumnya pendidik kurang menyadari peranannya dalam membina pelajaran sejarah. Hal ini tercermin dari seringnya pembelajaran di sekolah mendapat sorotan tajam dari masyarakat, karena ternyata pembelajaran sejarah diselenggarakan dengan cara-cara yang kurang memadai (Widja, 1989).
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran, baik secara eksternal maupun internal. Faktor-faktor eksetrnal mencakup pendidik, materi, pola interaksi, media dan teknologi, situasi belajar dan sistem. Masih ada pendidik yang kurang menguasai materi dan dalam mengevaluasi peserta didik, menuntut jawaban yang persis seperti yang ia jelaskan. Peserta didik tidak diberi peluang untuk berfikir kreatif. Pendidik juga mempunyai keterbatasan dalam mengakses informasi baru yang memungkinkan ia mengetahui perkembangan terakhir di bidangnya dan kemungkinan perkembangn yang lebih jauh dari yang sudah dicapai sekarang. Sementara itu materi pembelajaran dipandang oleh peserta didik terlalu teoritis, kurang memanfaatkan berbagai media secara optimal.
Beberapa pakar pendidikan sejarah maupun sejarawan memberikan pendapat tentang fenomena pembelajaran sejarah yang terjadi di Indonesia diantaranya masalah model pembelajaran sejarah, kurikulum sejarah, masalah materi dan buku ajar atau buku teks, dan profesionalisme pendidik sejarah. Kenyataan yang ada sekarang, pembelajaran sejarah jauh dari harapan untuk memungkinkan peserta didik melihat relevansinya dengan kehidupan masa kini dan masa depan. Pembelajaran sejarah cenderung hanya memanfaatkan fakta sejarah sebagai materi utama. Tidak aneh bila pendidikan sejarah terasa kering, tidak menarik, dan tidak memberi kesempatan kepada anak didik untuk belajar menggali makna dari suatu peristiwa sejarah.
Strategi pedagogis sejarah Indonesia sangat lemah. Pendidikan sejarah di sekolah masih cenderung menuntut anak agar menghafal suatu peristiwa. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengartikan suatu peristiwa guna memahami dinamika suatu perubahan. Sistem pembelajaran sejarah yang dikembangkan sebenarnya tidak lepas dari pengaruh budaya yang telah mengakar. Model pembelajaran yang bersifat satu arah dimana pendidik menjadi sumber pengetahuan utama dalam kegiatan pembelajaran menjadi sangat sulit untuk diubah. Pembelajaran sejarah saat ini mengakibatkan peran peserta didik sebagai pelaku sejarah pada zamannya menjadi terabaikan. Pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta didik sebelumnya atau lingkungan sosialnya tidak dijadikan bahan belar di kelas, sehingga menempatkan peserta didik sebagai peserta pembelajaran sejarah yang pasif. Kekurang cermatan pemilihan strategi pembelajaran akan berakibat fatal bagi pencapaian tujuan (Widja, 1989).
Masalah profesionalisme pendidik sejarah juga masih dipertanyakan, sampai saat ini masih berkembang kesan dari para pendidik, pemegang kebijakan di sekolah bahwa pelajaran sejarah dalam mengajarkannya tidak begitu penting memperhatikan masalah keprofesian, sehingga tidak jarang tugas mengajar sejarah diberikan kepada pendidik yang bukan profesinya. Akibatnya, pendidik mengajarkan sejarah dengan ceramah mengulangi isi yang ada dalam buku. Sementara itu terlalu banyak sekolah yang memposisikan pendidik sejarah sebagi orang buangan, dan mata pelajaran sejarah sekedar sebagai pelengkap. Selain itu, sebagian besar pendidik sejarah juga tidak mengikuti perkembangan hasil penelitian dan penerbitan buku sejarah yang mutakhir. Hal yang terekhir itu juga berkaitan denagn adanya kenyataan bahwa institusi resmi yang menjadi tempat pendidikan tambahan bagi pendidik sejarah itu hanya berfokus pada substansi historis dan metode pembelajaran sejarah yang tertinggal jauh (Purwanto, 2006).
Pembelajaran sejarah di sekolah selama ini sering dilakukan kurang optimal. Pelajaran sejarah seolah sangat mudah dan digampangkan. Banyak pendidik yang tidak memiliki berlatar belakang pengetahuan/pendidikan sejarah, tetapi mengajar sejarah di sekolah. Sesuai dengan ketetapan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan PP No. 19 tahun 2005, maka pengembangan kurikulum pendidikan sejarah di SD, SMP, SMA menjadi tanggung jawab masing-masing sekolah tersebut. Melalui pengembangan dan penempatan sejarah lokal sebagai materi kurikulum yang dasar, terlepas apakah materi tersebut dikemas dalam mata pelajaran sejarah ataukah mata pelajaran lain. Posisi materi sejarah lokal dalam kurikulum dianggap penting karena pendidikan harus dimulai dari lingkungan terdekat dan peserta didik harus menjadi dirinya sebagai anggota masyarakat terdekat
Para ahli kurikulum mengajukan kritik terhadap pembelajaran sejarah yang didominasi  bahan hafalan, lebih menekankan memorisasi dan mengabaikan usaha pengembangan kemampuan intelektual yang lebih tinggi, tidak relevan dengan kebutuhan peserta didik (Partington, 1980). Meskipun kritik tersebut bertolak dari kenyataan yang ada di Inggris, tetapi kenyataannya juga berlaku di Indonesia. Untuk itu, perlu ada usaha untuk mengembangkan alternatif baru dalam proses pembelajaran sejarah di sekolah karena secara pedagogis sangat lemah. Selama ini pembelajaran sejarah di sekolah terlalu indoktrinatif dan tidak menjadikan anak berpikir kreatif
Metode pembelajaran sejarah semacam ini telah menjadikan pelajaran sejarah membosankan, karena tidak memberikan sentuhan emosional, peserta didik merasa tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang kaku berakibat buruk untuk jangka waktu panjang dan berpotensi memunculkan generasi yang mengalami "amnesia sejarah" yaitu melupakan sejarah bangsa sendiri. Penelitian Govinthasamy (2002) menunjukkan bahwa pendidik-pendidik sejarah kurang mementingkan penerapan KBKK (Kemahiran Berfikir Kreatif dan Kritis)  dalam pembelajarannya.
Pembelajaran sejarah di sekolah selama ini kurang menarik, bahkan sering dianggap membosankan, dan dirasakan hanya sebagai rangkaian fakta-fakta yang berupa urutan tahun, tokoh dan peristiwa belaka yang jauh dari lingkungan sosial peserta didik, terutama di luar Jawa, karena selama ini materi kurikulum didominasi peristiwa sejarah di Pulau Jawa, sementara peristiwa dan peran tokoh di daerah lain yang tidak sedikit dan tidak kalah pentingnya termasuk di Sulawesi Tenggara tidak pernah termuat dalam buku/bahan ajar. Materi pembelajaran sejarah yang diberikan kepada peserta didik SD hingga SLTA tidak berbeda. "Proklamasi kemerdekaan RI dan Perang Diponegoro, misalnya, dipelajari dari SD hingga SLTA, sehingga membosankan. Akhirnya pelajaran sejarah benar-benar bisa mengajarkan kearifan hidup bagi peserta didiknya. Untuk itu masalah tawuran anak sekolah yang kerap terjadi, bukan semata-mata persoalan budi pekerti, tetapi juga karena ada kesalahan  dalam pembelajaran sejarah.
Salah satu usaha pengembangan pembelajaran sejarah adalah dikembangkannya suplemen kurikulum muatan lokal atau Kurikulm Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Inti muatan lokal adalah program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan kebutuhan daerah, serta wajib dipelajari oleh peserta didik di daerah itu.
Hasil Penelitian Sayono (2001) menunjukkan perlunya penyempurnaan kurikulum pembelajaran sejarah dengan menempatkan sejarah lokal sebagai bahan ajar. Hal ini untuk menghindarkan peserta didik tercabut dari akar sosio-kulturalnya, karena materi sejarah yang paling dekat dengan kondisi psikologis peserta didik adalah sejarah lokal. Kedudukan sejarah lokal sangat urgen dalam pembelajaran sejarah, dan diharapkan ada kesinambungan dalam pemikiran peserta didik agar dapat merasa bahwa diri dan lingkungannya merupakan bagian dari kehidupan yang lebih luas yakni negara kesatuan Republik Indonesia
Tujuan penerapan sejarah lokal dalam pembelajaran sejarah di sekolah adalah (1) bahan  belajar akan lebih mudah diserap peserta didik, (2) sumber belajar di daerah dapat lebih mudah dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, (3) peserta didik lebih mengenal kondisi lingkungan, (4) peserta didik dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya, (5) peserta didik dapat menolong diri dan orang tuanya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, (6) peserta didik dapat menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan  yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya, (7) peserta didik menjadi akrab dengan lingkungannya (Widja, 1989), dan peserta didik makin kreatif, inovatif, patriotik, dan cinta tanah air.
Mencermati perkembangan masyarakat yang  begitu kompleks, maka perlu kurikulum berwawasan lokal berstandar Internasional, karena perkembangan kurikulum sejarah tidak terlepas dari faktor eksternal dan internal. Kurikulum nasional yang disusun berdasarkan kompetensi dasar dalam bentuk Standar Internasional, akan memberikan peluang luas kepada daerah untuk mengembangkan muatan lokal dalam pembelajaran sejarah, sesuai dengan ciri khas masing-masing daerah. Dalam mengembangkan kurikulum bermuatan sejarah lokal dapat dikemas dengan cara menjabarkan dan menambah bahan kajian dari KTSP mata pelajaran sejarah. Untuk dapat mengembangkan muatan sejarah lokal dengan baik perlu kiranya tetap menggunakan pendekatan-pendekatan yang berlaku dalam sejarah nasional yaitu faktual, prosesual, pemecahan masalah, dan tematis. Pendekatan tematis memerlukan pengembangan sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah perkebunan, dan sejarah peradaban, yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.
Pengembangan pembelajaran sejarah bermuatan lokal perlu pula mencermati arah materi sejarah yang bersifat Indonesia sentris, arah gerak sejarah Bangsa Indonesia yang semula ditentukan oleh kaum elit/penguasa, menuju ke gerak sejarah yang tidak hanya ditentukan oleh kaum penguasa, tetapi oleh rakyat Indonesia. Dalam menghadapi tantangan pembelajaran sejarah yang demikian ini peran pendidik sejarah benar-benar menentukan selain sebagai pelaksana kurikulum dan pengembang kurikulum sejarah, juga harus mampu melakukan pengkajian sejarah lokal di sekitar tempat tugasnya.

B. Pengintegrasian Sejarah Lokal dalam Pembelajaran Sejarah
Pengintegrasian sejarah lokal dalam tulisan ini adalah pemuatan sejarah dalam lingkup yang terbatas meliputi suatu lokasi tertentu. Perlunya pemuatan sejarah lokal karena untuk mengetahui kesatuan yang lebih besar, bagian yang lebih kecil pun harus dimengerti dengan baik. Seringkali hal-hal yang ada di tingkat nasional baru bisa dimengerti dengan baik, apabila kita mengerti dengan baik pula perkembangan di tingkat lokal. Pengembangan penulisan yang bersifat nasional seperti selama ini, sering kurang memberi makna bagi orang-orang tertentu, terutama yang terkait dengan sejarah wilayahnya sendiri (Lapian, 1980).
Banyak bagian sejarah bangsa Indonesia, bukan saja tidak pernah dihayati, tetapi juga tidak pernah dibayangkan karena kurangnya informasi tentang peristiwa itu, sehingga ada begian-bagian sejarah daerah kita sendiri yang luput dari masyarakat pembaca sejarah. Sebagai contoh keterbatasan pengetahuan orang-orang (bahkan yang berasal dari daerah itu sendiri) tentang peranan penting serta perkembangan detail dari kerajaan Wolio, Wuna, Konawe, Mekongga, dan Laiwoi. Ataupun arti penting serta detail dari bentuk-bentuk pemerintahan yang pernah berkembang di Indonesia seperti Barata di Wuna dan Buton, serta Pitu Dula Batu di Kerajaan Konawe. Masih banyak lagi bisa dipakai contoh tentang kasus-kasus objek studi sejarah lokal yang tidak begitu dikenal di lingkungan masyarakat Indonesia.
Peninggalan gua prasejarah di Muna, Al-Qur’an 30 juz tulisan tangan di atas kertas yang berasal dari bahan baku kulit kayu yang ditemukan di Muna, perjuangan rakyat Buton melawan Jepang, perlawanan rakyat Kolaka dan Kendari melawan Sekutu dan Belanda yang mencapai puncaknya pada saat peristiwa 19 November 1945. Rangkaian peristiwa tersebut belum banyak ditulis sehingga tidak dipahami masyarakat di Sulawesi Tenggara. Dengan demikian, kepentingan mempelajari sejarah lokal, pertama-tama adalah untuk mengenal berbagai peristiwa sejarah di wilayah terdekat dengan lebih baik dan lebih bermakna.
Sejalan dengan itu, Lapian (1980) menunjukkan kepentingan lebih lanjut dari kajian secara lokal, yaitu: “untuk bisa mengadakan koreksi terhadap generalisasi-generalisasi yang sering dibuat dalam penulisan sejarah nasional”. Sebagai ilustrasi masalah generalisasi yang menyangkut periodisasi sejarah Indonesia yang sering diberi istilah Zaman Hindu. Pada kenyataannya ada daerah-daerah yang tidak mengenal periode zaman Hindu (seperti Sangir-Talaud, Sewu, Rote, dan Wilayah Sulawesi Tenggara). Ada pula daerah-daerah yang sampai sekarang masih berpegang pada Hinduisme (seperti Bali, dan sebagian Lombok). Di sini juga nampak bahwa pengembangan penulisan sejarah lokal akan memberikan bahan pengecekan terhadap anggapan teoritis yang bersifat menggeneralisasikan masalahnya untuk seluruh Indonesia.
          Ada beberapa aspek positif dalam pembelajaran sejarah lokal, baik yang bersifat edukatif psikologis maupun yang bersifat kesejarahan sendiri. Pertama, mampu membawa peserta didik pada situasi ril di lingkungannya dan mampu menerobos batas antara dunia sekolah dan dunia nyata di sekitar sekolah. Dilihat secara sosio-psikologis bisa membawa peserta didik secara langsung mengenal dan menghayati lingkungan masyarakatnya, dimana mereka merupakan bagian di dalamnya (Mahoney, 1981).
          Kedua, pembelajaran sejarah lokal, akan lebih mudah membawa peserta didik pada usaha untuk mengenang pengalaman masa lampau masyarakatnya dengan melihat situasi masa kini, bahkan dapat memproyeksikan  peluang dan tantangan pada yang akan datang. Dalam pembelajaran sejarah lokal peserta didik akan mendapatkan banyak contoh dan pengalaman dari berbagai tingkat perkembangan lingkungan masyarakatnya, termasuk situasi masa kini. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah menangkap konsep perubahan yang menjadi kunci penghubung antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.
          Kalau dihubungkan dengan teori J. Bruner maupun dalam hubungan dengan konsep-konsep pendekatan proses, maka pembelajaran sejarah lokal sangat mendukung prinsip pengembangan kemampuan peserta didik untuk berpikir aktif, kreatif dan struktural konseptual. Hampir semua prinsip dalam rangka pembelajaran peserta didik aktif  sangat relevan dengan kegiatan pembelajaran yang bermuatan sejarah lokal. Sesuai dengan sifat materi serta sumber sejarah lokal, maka peserta didik akan terdorong untuk menjadi lebih peka lingkungan, begitu juga mereka akan lebih terdorong mengembangkan keterampilan-keterampilan khusus seperti: mengobservasi, teknik bertanya atau melakukan wawancara, mengumpulkan dan menyeleksi sumber, mengadakan klasifikasi serta mengidentifikasi konsep, bahkan membuat generalisasi, kesemuanya itu mendorong bagi perkembangan proses belajar bersifat discovery inquiry.
          Jika dihubungkan dengan pendekatan kurikulum yang bersifat integratif beberapa mata pelajaran menjadi satu kelompok, dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), maka melalui pembelajaran bermuatan sejarah lokal nampaknya integrasi itu akan lebih mudah diwujudkan. Secara bersama-sama mata pelajaran seperti: ekonomi, geografi dan sejarah bisa juga dikelompokkan sebagai “pembelajaran lingkungan masyarakat setempat” (local community studies). Dalam wadah pembelajaran lingkungan masyarakat setempat, aspek-aspek kehidupan ekonomi, sosial, geografis serta aspek perkembangan suatu masyarakat dalam sutu lokasi tertentu sulit dipisahkan dengan tegas. Semua unsur kelompok mata pelajaran ini saling terkait dan menjelma dalam wujud kehidupan nyata dari masyarakat secara keseluruhan (Berry dan Schug, 1984).
          Pembelajaran bermuatan sejarah lokal mengharapkan peserta didik maupun pendidik harus berhubungan dengan sumber-sumber sejarah, baik yang tertulis maupun informasi lisan, baik berupa dokumen maupun benda-benda seperti: bangunan, alat-alat, peta dan sebagainya yang mula-mula harus dikumpulkan, kemudian dikaji (dikritik) serta diinterpretasikan sebelum bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal. Untuk itu, pendidik sejarah perlu suatu persiapan khusus sebelum pembelajaran bermuatan sejarah lokal bisa dilaksanakan secara efektif.
          Kesulitan lain adalah memadukan tuntutan pembelajaran sejarah lokal dengan tuntutan penyelesaian target materi yang telah tertulis dalam kurikulum. Pada umumnya dalam kurikulum sudah ditentukan sejumlah materi dan pokok-pokok bahasan yang harus diselesaikan sesuai dengan alokasi waktu yang sudah ditentukan dengan ketat. Dengan demikian pendidik akan mengalami dilema antara memenuhi tuntutan kurikulum dengan usaha pengembangan pembelajaran bermuatan sejarah lokal yang memerlukan waktu yang relatif banyak, baik untuk persiapan maupun untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran sejarah lokal yang dilakukan di luar kelas.
          Terkait dengan permasalahan tersebut, Douch (1967) mengemukakan tiga model pembelajaran sejarah lokal. Pertama, pendidik sejarah hanya mengambil contoh-contoh dari kejadian lokal untuk memberi ilustrasi yang lebih hidup dari uraian sejarah nasional maupun sejarah dunia yang sedang diajarkan. Di sini jelas tidak akan ada masalah bagi usaha yang mengaitkan sejarah lokal dengan kurikulum pembelajaran sejarah yang berlaku, karena tidak ada pengambilan alokasi waktu yang sudah disediakan dan tidak ada kegiatan khusus di luar kelas yang harus dilakukan pendidik dan peserta didik.
Kedua, dilakukan dalam bentuk kegiatan penjelajahan lingkungan. Di sini sudah ada usaha memberi porsi yang lebih nyata dari kegiatan belajar peserta didik dengan aktivitas kesejarahan di luar kelas. Dalam bentuk ini peserta didik selain belajar sejarah di kelas, juga diajak ke lingkungan sekitar sekolah untuk mengamati langsung sumber-sumber sejarah dan mengumpulkan data sejarah. Aspek-aspek yang diamati tidak semata-mata berupa sejarah dalam urutan-urutan peristiwa, tetapi juga berbagai aspek kehidupan yang terkait seperti geografi, sosial ekonomi, folklor, dan pertanian.
Ketiga, studi khusus tentang berbagai aspek kesejarahan di lingkungan peserta didik. Peserta didik diorganisir untuk mengikuti prosedur seperti yang dilakukan peneliti profesional, mulai dari pemilihan topik, membuat perencanaan, cara membuat analisis data sampai penyusunan laporan hasil studi.
Diantara tiga pilihan tersebut, akan lebih bijak jika dipilih model kedua, karena selain tidak mengganggu materi yang telah ada dalam kurikulum, juga dapat meningkatkan partisipasi peserta didik dan mendorong peserta didik untuk lebih kreatif dan inovatif, serta bangga terhadap lingkungan sosialnya. Persoalannya sekarang, sejauh mana pendidik sejarah mampu merancang kegiatan pembelajaran yang dapat mengaitkan dengan peristiwa sejarah lokal. Selama ini sumber-sumber sejarah lokal masih terbatas yang diungkap secara tertulis, jika ada itu umumnya ditulis oleh sejarwan amatir, sementara sejarawan profesional (sarjana sejarah dan magister sejarah) hanya senang berdebat persoalan metodologi yang juga sudah ketinggalan zaman, sehingga cuplikan-cuplikan sejarah yang sempat ditulis juga tidak dapat memuaskan banyak pihak, seperti kasus sejarah Sultra yang dua tahun terakhir dibacakan dalam upacara Harlah Sultra selalu menimbulkan kotroversi. Namun di sisi lain, jika kajian sejarah lokal dapat dilakukan secara profesional dengan mengadaptasi metodologi penelitian sosial modern dapat menghasilkan sesuatu yang berharga seperti hasil kajin sejarah Kota Kendari yang dilakukan Tim dari FKIP Unhalu berhasil mengungkap hari lahir Kota Kendari 9 Mei 1832, demikian pula penelitian Sejarah Kolaka yang dilakukan oleh Tim yang sama berhasil mengungkap beberapa fakta baru diantaranya rangkaian peristiwa 19 November 1945 yang merupakan puncak perjuangan rakyat Sulawesi Tenggara dalam mempertahankan kemerdekaan melawan sekutu dan Belanda sekaligus dapat memperkaya muatan sejarah nasional Indonesia. Dua kajian tersebut dapat menjadi acuan utama pendidik sejarah dalam pembelajaran di sekolah mulai SD sampai dengan perpendidikan tinggi. 

C. Strategi Pembelajaran Sejarah
Agar pembelajaran sejarah berjalan efektif, maka metode yang digunakan harus bisa mengkonstruk "ingatan historis" yang disertai dengan "ingatan emosional". Metode pembelajaran satu arah yang ada selama ini hanya akan mengkonstruk "ingatan historis". Peserta didik menjadikan sejarah hanya sebagai fakta-fakta hafalan tanpa adanya ketertarikan dan minat untuk memaknainya, apalagi menggali lebih jauh. Supaya ingatan "historis" bisa bertahan lama, maka perlu disertai "ingatan emosional", yaitu ingatan yang terbentuk dengan melibatkan emosi hingga bisa menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik untuk menggali lebih jauh dan memaknai berbagai peristiwa sejarah. Proses pembelajaran kemudian tidak hanya berhenti pada penghafalan saja, tetapi peserta didik bisa aktif dalam komuniasi dua arah dengan pendidik untuk menyampaikan pendapatnya mengenai objek sejarah yang tengah dipelajari karena sejak awal ia telah merasa menjadi bagian dari proses pembelajaran. Di sinilah urgensinya sejarah lokal dalam pembelajaran sejarah.
Penggunaan model pembelajaran cooperative learning merupakan salah satu alternatif yang dapat dilaksanakan oleh pendidik dalam memberdayakan peserta didik secara aktif dalam menggali muatan sejarah lokal ke dalam pembelajaran sejarah. Model cooperative learning ini mampu menempatkan peserta didik sebagai subjek dalam mengungkap episode-episode sejarah lokal. Karena pada dasarnya pelaksanaan cooperative learning adalah menggali potensi yang sebenarnya sudah dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Untuk mendukung kondisi tersebut, pendidik memegang peranan penting dalam menciptakan suasana kelas yang `dapat memberikan keleluasaan dalam belajar dan mendorong peserta didik mengembangan potensi berpikirnya. Penggunaan model pembelajaran cooperative learning ini menempatkan pendidik sebagai fasilitator, motivator, mediator dan evaluator dalam upaya membantu peserta didik mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan berpikir kritis, agar ia mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, mampu bekerjasama dengan orang lain, dan mampu untuk berinteraksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Pembelajaran sejarah lokal dapat divariasikan dengan media komputer/internet dan modul yang secara empiris  menunjukkan produktivitas hasil belajar sejarah yang tinggi dan dapat mengaplikasikan pelbagai teori dan strategi pembelajaran terutama pembelajaran koperatif (Mohamad, 2002; Alias, 2008).
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu bentuk pembelajaran dalam kelompok kecil untuk bekerja sama sesama peserta didik (Heinich, 1990), dan dapat meningkatkan motivasi serta prestasi belajar peserta didik (Anglin, 1995). Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran kooperatif, maka ada lima unsur yang harus diterapkan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab terhadap tugas dan kegiatan belajar, (3) terjadi tatap muka tidak harus di kelas, (4) komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kinerja kelompok (Lie, 2002). Hasil uji coba melalui eksperimen menunjukkan bahwa strategi pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar sejarah (Mursidin, 2005). Pandangan lain menyatakan bahawa pembelajaran yang menggunakan metode diskusi dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar sejarah dan meningkatkan sikap positif peserta didik terhadap mata pelajaran sejarah dan pembelajaran sejarah.
Kegiatan pembelajaran bermuatan sejarah lokal dapat pula dilakukan dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Melalui pendekatan ini proses pembelajaran menempatkan lingkungan sosial sebagai sumber belajar potensial termasuk di dalamnya aspek-aspek historis dalam lingkungan sehari-hari peserta didik. Penggunaan peta sejarah sebagai bagian dari CTL secara empiris menurut Ismain (2001) dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam pembelajaran sejarah. Implementasi CTL dapat dilakukan dengan menggunakan metode inquiri seperti dilakukan oleh Ahmad (2008) yang menunjukkan bahawa 83% peserta didik mampu melakukan inkuiri sejarah secara konsisten. Pemanfaatan metode inquiri dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar sejarah dan dapat meningkatkan sikap positif peserta didik terhadap mata pelajaran sejarah dan pembelajaran sejarah (Mahmud, 2008).
Dalam kaitannya dengan penggunaan karya sastra pengarang Indonesia sebagai sarana pembelajaran, kita justru tertinggal jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Di Malaysia sudah sejak lama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer menjadi bacaan wajib peserta didik setingkat SMP, begitu pula dengan Gadis Pantai yang menjadi bacaan wajib peserta didik setingkat SMP di Australia. Sementara itu, di negeri si pengarang, semua karya-karyanya sempat dilarang keras beredar. Jadi, sebagai pendidik sejarah harus senantiasa mendasarkan dirinya pada fakta-fakta, sementara ia tidak boleh menutup diri dari metode pembelajaran yang lebih mudah diterima dan lebih digemari peserta didik sehingga mereka tidak mengalami "amnesia sejarah" (Kompas, 6 September 2006).
Untuk menjadikan pendidik sejarah yang mampu mengembangkan materi sejarah lokal, maka ia harus mampu melakukan pengkajian sejarah, dan ini tidak bisa ditawar-tawar lagi karena dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memasukkan materi pengenalan penelitian sejarah pada semester satu kelas X. Secara filosofi bahwa inti materi pembelajaran sejarah dalam kompetensi dasar ini adalah sejarah lokal.  Usaha ini sangat positif, karena ketika peserta didik masuk SMA, mereka langsung diajak untuk latihan meneliti sejarah. Pendekatan yang tepat digunakan harus lebih mengedepankan pembelajaran learning by doing. Sebab apabila model pembelajaran hanya mengedepankan kognitif, maka tidak ubahnya materi sejarah yang ada pada peserta didik akan sia-sia.
Berkaitan model pembelajaran sejarah bermuatan sejarah lokal, maka perlu pengembangan modul dan buku-buku untuk merangsang peserta didik. Seharusnya pendidik tidak terpaku pada buku ajar, tetapi harus mengembangkan modul yang mengintegrasikan sejarah lokal. Sebab karakteristik setiap sekolah berbeda sesuai dengan arah KTSP berupa keragaman. “Tidak mungkin menggunakan satu buku untuk seluruh sekolah di Indonesia. Pendidik harus mampu mengembangkan materi sejarah dalam dimensi kekinian dengan mendekatkan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kedekatan masalah peserta didik. Pengembangan strategi pembelajaran yang mengedepankan aktivitas peserta didik merupakan upaya inovatif pembelajaran sejarah.
Menurut Wahap (2000.)  yang mampu melakukan itu semua adalah pendidik yang mempunyai latar pendidikan sejarah dan pengalaman pelatihan. Akhirnya, pendidik sejarah harus memiliki latar belakang pendidikan sejara dan perlu diberi pelatihan materi dan metode pembelajaran sejarah sehingga hasil pembelajarannya efektif dan efisien.

D.  Pemanfaatan Media Teknologi Informasi
Upaya mencapai tujuan pembelajaran yang efektif, maka pembelajaran sejarah harus kaya dengan sumber, agar peserta didik dapat mengembangkan imajinasinya. Persoalan-persoalan yang muncul sebagai akibat dari perbedaan persepsi antar penulis akan memaksa peserta didik untuk berpikir lebih tajam, sensitif, dan berupaya mengembangkan kemampuan nalarnya. Sumber atau resource yang paling kaya ada di internet, dan inilah gudangnya resource untuk bahan belajar peserta didik.
Berkaitan model pembelajaran sejarah bermuatan sejarah lokal, maka perlu pengembangan media berbasis teknologi informasi untuk merangsang peserta didik. Seharusnya pendidik tidak terpaku pada buku ajar, tetapi harus mengembangkan media yang mengintegrasikan sejarah lokal. Sebab karakteristik setiap sekolah berbeda sesuai dengan arah KTSP berupa keragaman. Tidak mungkin menggunakan satu buku/media untuk seluruh sekolah di Indonesia. Pendidik harus mampu mengembangkan materi dalam dimensi kekinian dengan mendekatkan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kedekatan masalah peserta didik. Pengembangan strategi pembelajaran yang mengedepankan aktivitas peserta didik merupakan upaya inovatif pembelajaran sejarah.
Pengadaan media TIK untuk kegiatan pembelajaran bisa saja berasal dari sekolah itu sendiri atau dari pihak lain. Pada dasarnya tidak menjadi masalah dari manapun asalnya media TIK yang sampai di sekolah. Lebih penting lagi adalah bagaimana menyiasati agar media TIK yang telah tersedia di sekolah dapat dioptimalkan pemanfaatannya bagi kepentingan pembelajaran peserta didik. Beberapa contoh media TIK yang mulai banyak tersedia di pasaran adalah CD/kaset audio, VCD, dan internet. Timbul pertanyaan, mengapa menggunakan media TIK. Jawabnya:  Menghemat waktu proses pembelajaran, melatih pembelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan (http://www.docstoc.com/docs/ 20430018/).
Sehubungan dengan semakin maraknya ketersediaan media TIK untuk kegiatan pembelajaran, baik di pasaran, yang diadakan sekolah sendiri maupun yang diterima sekolah dari berbagai pihak, maka sebelum memanfaatkannya di dalam kelas, beberapa tips berikut ini perlu kiranya mendapatkan perhatian:

1. Mempelajari Materi Pembelajaran yang Dikemas dalam Media TIK
Akibat kemajuan TIK dewasa ini, para pendidik dapat mencatat daftar websites yang memang memuat materi pelajaran yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan dibahas di dalam kelas. Tidak hanya mencatat website-nya tetapi juga materi pelajaran yang dikandung di dalamnya. Penugasan peserta didik mengakses websites tertentu hendaknya dilakukan pendidik secara terencana. Demikian juga dengan alokasi waktu bagi peserta didik untuk mengerjakan tugas yang diberikan.
Jika di sekolah telah tersedia perangkat komputer dan akses ke internet, maka pendidik dapat menugaskan para peserta didiknya untuk mengunjungi websites yang dimaksudkan. Tidak hanya sekedar mengunjungi websites tertentu saja, tetapi para peserta didik juga ditugaskan untuk mendiskusikan materi pelajaran yang dikemas di dalamnya.
Mengakses websites tertentu yang ditugaskan pendidik dapat saja dilakukan peserta didik di luar jam pelajaran sekolah atau selama peserta didik masih berada di sekolah. Apabila selama berada di lingkungan sekolah, peserta didik dapat saja mengakses websites yang ditugaskan pendidik di lab komputer. Peserta didik akan merasa lebih leluasa melaksanakan tugas yang diberikan pendidik apabila ada jam pelajaran kosong. Atau, setidak-tidaknya ada satu jam pelajaran yang diperuntukkan pendidik kepada peserta didik untuk mengakses websites dan mendiskusikan materinya. Tentunya akan lebih baik lagi apabila peserta didik melaksanakan tugas di luar jam pelajaran sekolah.

2. Merencanakan Waktu Pemanfaatan Media TIK
Ada sebagian pendidik yang membawa media TIK atau media pembelajaran ke dalam kelas dan kemudian memanfaatkannya ketika dirinya merasa memerlukannya. Artinya, pemanfaatan media pembelajaran dilakukan sesuai dengan keinginannya.
Pemanfaatan media dalam kegiatan pembelajaran dilakukan secara terencana dan terintegrasi dalam jadwal pelajaran sekolah. Sebagai contoh pendidik yang akan memanfaatkan media CD atau VCD dalam kegiatan pembelajaran. Setelah mempelajari materi yang dikandung di dalam CD/VCD, maka pendidik tahu persis kapan materi tersebut akan dibahas bersama peserta didiknya. Dalam kaitan ini, pendidik dituntut membuat perencanaan pemanfaatannya. Berbagai topik program media yang terdapat dalam CD/VCD telah terlebih dahulu dipelajari pendidik sehingga dapat diintegrasikan dengan jadwal pelajaran sekolah, baik hari maupun waktunya. Dengan adanya perencanaan ini, maka peserta didik dapat dikondisikan agar peserta didik mempersiapkan diri dan fasilitas yang mereka perlukan sebelum kegiatan pemanfaatan media dilakukan. Demikian juga kesiapan pendidik itu sendiri, baik dalam mempelajari materi pelajaran yang dikemas di dalam media CD atau VCD maupun dalam mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan pendidik.

3. Mengkomunikasikan Rencana Pemanfaatan Media TIK kepada Peserta Didik
Ada 2 alasan mengapa dinilai penting mengkomunikasikan rencana pemanfaatan media TIK kepada peserta didik adalah agar peserta didik dapat mempersiapkan (a) dirinya untuk mempelajari materi pelajaran yang akan disajikan melalui media TIK dan (b) fasilitas yang diperlukan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran melalui media TIK. Dari sisi pendidik, ada tuntutan agar pendidik lebih (a) mempersiapkan dirinya mengenai materi pelajaran yang akan dibahas, (b) mempersiapkan fasilitas yang dibutuhkan (dalam kondisi baik) agar tidak menjadi hambatan sewaktu pemanfaatan media TIK dilaksanakan, dan (c) mempersiapkan ruangan yang akan menjadi tempat pemanfaatan media TIK (Siahaan, 2011).
Menurut Wahap (2000)  yang mampu melakukan itu semua adalah pendidik yang mempunyai latar pendidikan sejarah dan memiliki pengalaman pelatihan dalam aspek media, metode dan materi pembelajaran sejarah. Akhirnya, pendidik sejarah harus memiliki latar belakang pendidikan sejarah dan perlu diberi pelatihan tentang media dan metode pembelajaran sejarah sehingga hasil pembelajarannya efektif.
Berbagai kelemahan yang ditemukan dalam pembelajaran sejarah selama ini, salah satu penyebabnya karena materi yang diajarkan tidak ada kaitannya dengan lingkungan sosial peserta didik. Materi pembelajaran terkesan cerita tentang tokoh, peristiwa, dan tahun yang jauh dari lingkungan peserta didik. Untuk itu, integrasi sejarah lokal dalam pembelajaran sejarah merupakan suatu keharusan untuk melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga dapat memberi makna dan kesadaran kepada peserta didik. Demikian pula penggunaan pendekatan, metode, dan media pembelajaran yang manarik seperti media teknologi informasi berupa komputer/internet, sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Pendidik sejarah selain harus mampu membuat perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, juga dituntut kemampuan untuk melakukan pengkajian sejarah lokal di sekitar peserta dididknya dan mengaksesnya di dunia maya, sehingga peserta didik tidak lagi tergantung sepenuhnya kepada pendidik di sekolah.

1 komentar:

  1. Masya Allah 🤲 tulisan prof sangat spectacular ✍️ memberikan penawaran litersi mengenai pembelajaran dan metode...

    BalasHapus